Cerpen nyata ini ditulis oleh Ika Mufarikha.
H. Ali Muhtar, Lc, MA.
Ya.. kami biasa memanggil beliau dengan sebutan “Pak Ali”.
Pak Ali lahir di Kendal, 24 Juli 1981. Beliau merupakan anak ke-2 dari dua bersaudara. Pak Ali merupakan seorang ayah dengan dua anak juga seorang guru pendidikan agama islam di SMK Bhakti Kencana Botomulyo Cepiring.
Selain menjadi seorang guru beliau juga menjadi seorang dosen di UIN Walisongo Semarang dan Universitas Wahid Hasyim Semarang, yang pas kebetulan kami menimba ilmu di universitas tersebut (Unwahas).
Pak Ali kecil sudah terbiasa hidup di pesantren. Beliau mulai nyantri sejak usia 5 tahun atau pada saat beliau masuk sekolah Taman Kanak-kanak (TK) tepatnya di TK al-Qur’an di Gresik Jawa Timur, menginjak kelas 1 SD beliau kembali ke kampung halaman dan melanjutkan Sekolah Dasarnya di SD N 01 Kutoharjo Kaliwungu Kendal. Pada saat kelas V1 SD beliau sudah hafal al-qur’an 30 juz.
Setelah lulus dari sekolah dasar beliau melanjutkan nyantri sekaligus sekolah di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Yajri Payaman Magelang. Setelah menyelesaikan madrasah aliyah, beliau mengabdi dipondok kurang lebih 2 tahun. Setelah itu, beliau melanjutkan studi perguruan tingginya di Mekkah, Saudi Arabia tepatnya di perguruan tinggi Ummulqura University Makkah.
Akan tetapi…
Sebelum melanjutkan studi ke perguruan tinggi beliau sempat bimbang dan gelisah. Karena, setiap beliau meminta restu dan izin kepada pak kyai (pengasuh ponpes payaman Magelang) untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang ada di beberapa kota di Indonesia, pak kyai selalu tidak memberikan restu dan izin.
Akhirnya, Allah menjawab semua do’a dan ke istiqomahan pak ali yang selalu patuh dan manut kehendak pak kyai.
Alhamdulillah pak ali mendapatkan beasiswa S1 dan S2 di Mekkah. Baru setelah itulah pak ali mendapatkan restu dan izin dari pak kyai dan melanjutkan studinya.
10 tahun lamanya beliau di Mekkah dan berhasil menyelesaiakan S1 dan S2 nya. S1 beliau mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab, dan S2 beliau mengambil jurusan Syariah Islam.
Setelah menyelesaikan studinya, beliau kembali ke tanah air guna mengamalkan, dan membagikan pengetahuan yang telah dikumpulkan. Sebelum terjun ke masyarakat beliau meminta saran terlebih dahulu kepada para ulama-ulama.
Tidak lama setelah beliau kembali ke kampung halaman beliau mendapatkan tawaran untuk mengajar di beberapa SMA dan SMK, serta untuk menjadi dosen di UIN walisongo dan Universitas Wahid Hasyim semarang.
Tahun pertama beliau mengajar, beliau sempat merasa aneh dan bingung karena mendapati siswa dan siswi nya yang berkumpul menjadi satu di kelas, dan keadaan sistem pendidikan di Indonesia yang jauh berbeda dari apa yang pernah pak ali tempuh sewaktu beliau mondok dan kuliah di luar negeri, serta kedisiplinan siswa siswi nya yang jauh berbeda.
Saat beliau mengajar di SMA Kaliwungu, beliau sempat mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari beberapa anak didiknya, salah satunya beliau sempat dikatai oleh muridnya
“Kepala Bapak sama seperti kepala anjing”.
Kejadian itu terjadi pada saat jam pelajaran pendidikan agama islam dan beliau sedang meminta muridnya itu untuk maju dan membaca bahasa arab.
Tidak disangka muridnya tidak bisa dan kemudian emosi sembari mengatai pak ali dengan perkataan yang seperti itu.
Mendengar perkataan muridnya yang kasar, pak ali lantas terdiam sesaat, merasakan emosi namun mencoba untuk menahan dan bersabar, karena beliau sadar, beliau adalah seorang guru, dimana guru digugu dan ditiru.
Lalu beliau membawa murid yang mengatai nya itu ke ruang BK (Bimbingan Konseling), guna mendapatkan pelajaran dan sanksi atas apa yang ia lakukan. Ternyata dari pihak sekolah tidak berani menegur maupun memberikan sanksi karena merasa takut kehilangan salah satu siswanya.
Setelah kejadian itu, pak ali lebih memilih untuk mengundurkan diri secara baik-baik dari sekolah tersebut daripada terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Perlakuan tidak mengenakkan pun kembali di terima pak Ali ketika mengajar di SMK, ada salah satu muridnya yang jarang sekali masuk jam pelajaran yang diampu beliau, bahkan bisa dikatakan selama 1 semester, masuk jam pelajaran pendidikan agama islam hanya ketika ulangan semester saja, sontak itu membuat pak Ali sedikit geram, namun tetap bersabar.
Nah, Ketika ulangan berlangsung murid tersebut tidak bisa mengerjakan soal dengan baik, lantas pak Ali pun memberikan nilai sesuai dengan kemampuan murid tersebut, tanpa memberikan tambahan nilai sedikitpun karena memang si murid tidak pernah masuk jam pelajaran beliau.
Setelah menerima nilainya, murid tersebut tidak terima dan mengerjai pak Ali dengan cara menggemboskan ban motor milik pak Ali. Ketika kami bertanya kepada pak ali “bagaimana pak rasanya diperlakukan seperti itu oleh anak didik bapak sendiri ?”, beliau menjawab dengan santainya, sembari tersenyum tipis, “ya capek mbak. Karena harus dorong motor sambil nyari bengkel motor,hehe..
Tapi ya begitu, ketika kita sudah memilih untuk menjadi seorang guru ya harus benar-benar totalitas dan mempunyai rasa sabar yang luar biasa.
“Jadilah guru yang bertanggung jawab dan berkualitas, dan jangan sekali-kali memikirkan gaji/bayaran berapa ketika menjadi guru. Jadilah guru yang jujur, jangan sampai menghalalkan berbagai cara hanya untuk menjadi guru yang PNS maupun sertifikasi.”
Begitulah pak Ali yang setiap perkataannya selalu menginspirasi dan akan kami ingat, semoga.
Mendapatkan perlakuan buruk tidak hanya ketika menjadi guru saja. Ketika menjadi dosen pun pak ali pernah mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan dari salah satu mahasiswanya.
Kejadian itu terjadi sudah lama ketika awal-awal pak ali menjadi dosen dan masih terbawa suasana disiplin yang ketat karena baru pulang dari mekkah.
Kejadian itu bermula ketika ada salah satu mahasiswa nya yang merupakan salah satu anggota dewan, mahasiswa tersebut tidak suka dan tidak terima pak ali memberikan tugas kepadanya.
Kejadian itu bermula ketika ada salah satu mahasiswa nya yang merupakan salah satu anggota dewan, mahasiswa tersebut tidak suka dan tidak terima pak ali memberikan tugas kepadanya.
Mahasiswa tersebut berkata dengan nada sedikit keras
“Anda itu siapa ? berani-beraninya memberikan saya tugas ! Anda tidak tahu siapa saya ? semua dosen disini tunduk sama saya dan tidak ada seorang dosenpun yang berani memberikan saya tugas !”
Mendengar itu, pak ali lantas menjawab dengan kalimat yang bernada santai, namun tegas.
“Saya memang tidak tahu siapa bapak, dan kalau bapak berbicara pangkat, disini posisinya saya adalah dosen, dan bapak adalah mahasiswa saya, bapak mau mengerjakan tugas atau tidak itu terserah bapak. Tapi, dengan konsekuensi bapak tidak akan mendapatkan nilai dari mata kuliah saya.”
Alhamdulillah, akhirnya mahasiswa itu membuat tugasnya, karena takut dengan kalimat tersebut.
Oh ya, pak ali selain menjadi guru dan dosen, dirumah beliau juga menjadi pengasuh pondok pesantren yang pak ali dirikan bersama sang ibu, Pondok pesantren Tahfidz Usyaqul Qur’an.
Dan, semua itu terwujud disebabkan oleh ketaatan, dan kepatuhan beliau terhadap kehendak Guru.
Yah, sekian sekilas cerita tentang guru kami, pak Ali, semoga dapat menginspirasi pembaca. Terimakasih atas perhatian, mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Kritik dan saran kami harapkan
Share This :

Terimakasih.